Yesus itu pengampun yang luar
biasa. Ia tidak pernah benci dan dendam. Ia selalu saja memaafkan orang-orang
yang telah menyakitiNya. Pengampunan yang diberikan Yesus menunjukkan betapa
besar belas kasih Allah kepada kita. Yesus tidak menuntut pertanggungjawaban
dari kita, tetapi Ia hanya mau kita juga mengampuni orang lain yang bersalah
terhadap kita.
Setelah Yesus naik ke surga,
kuasa untuk mengampuni diberikanNya kepada Gereja. Wewenang itu
dilaksanakan oleh uskup dan para imam
dalam Sakramen Pengakuan (Bdk. KGK 986). Sakramen ini disebut Sakramen
Pengakuan karena penyampaian pengakuan dosa di depan imam adalah unsure hakikinya.
Orang menamakannya juga Sakramen Pengampunan, karena oleh absolusi imam, Kristus
menganugerahkan “pengampunan dan kedamaian” secara sacramental kepada orang
yang mengakukan dosanya. Sakramen Perdamaian, karena ia memberikan kepada
pendosa cinta Allah yang mendamaikan.
Mengaku dosa dihadapan imam
merupakan perwujudan dari tobat. Dengan mengaku dosa, orang berdosa kembali
menjalin ikatan yang baik dengan Allah dan sesama. Gereja Katoli mewajuibkan
umat mengaku dosa minimal sekali setahun (Bdk Lima perintah Gereja). Setelah mengaku
dosa dan bertobat, Allah mengampuni dosa kita. Kita pun harus mau mengampuni
sesama. Dengan mengampuni, kita akan diampuni Allah.
Dalam kehidupan kita, sering kita
lihat bahwa tidak semua orang bila melakukan kesalahan cepat-cepat untuk
meminta maaf atas kesalahannya. Demikian pula tidak semua orang yang mau dengan
senang hati untuk memaafkan atau memberi pengampunan kepada orang yang bersalah
dan berusaha meminta maaf atau mohon pengampunan padanya, apa lagi jika dirasa
bahwa kesalahannya sungguh terlalu berat dan menyakitkan hati.
Ada beberapa faktor yang dapat
menyebabkan orang sulit untuk memaafkan atau juga orang sulit untuk meminta
maaf atas kesalahannya, yaitu antara lain: (a) karena
keinginan untuk mempertahankan “harga diri” atau wibawa, (b) karena
gengsi,
Ketidakmampuan memaafkan atau
mengampuni dapat mengakibatkan:
- menumbuhkan rasa dendam, yang sesungguhnya dapat merugikan diri sendiri,
- orang yang bersalah pada akhirnya menanggung rasa bersalah secara berkepanjangan,
- tumbuhnya permusuhan dan kebencian.
Meminta maaf atau memberi
pengampunan, sesungguhnya dapat menguntungkan, baik bagi yang bersalah maupun
bagi orang yang telah dirugikan. Dengan mau mengampuni, ataupun mau meminta maaf,
akan dapat menjadikan hati kita tenang, tenteram, damai, jauh dari segala
permusuhan dan dendam, bahkan dengan memaafkan atau meminta maaf, hubungan kita
dengan sesama dan dengan Tuhan akan tetap terjalin dengan harmonis dan
menyenangkan
Belajar dari Yesus dalam memberi
pengampunan kepada sesama Mat. 8:21-35
·
tungan.Pada kesempatan
lain, Yesus melakukan pengampunan kepada perempuan yang kedapatan berjinah.
Kepada perempuan yang berdosa ini, Yesus tidak mengadili, tetapi memberi
kesempatan kepada perempuan tersebut untuk berubah dan tidak melakukan dosa
lagi. Yesus memberi kesempatan kepada pendosa itu untuk bertobat. Kesediaan untuk mengampuni merupakan kualitas spiritualitas
yang tinggi. Semakin mampu mengampuni, berarti kita semakin diperkaya oleh
kasih Allah, semakin dimampukan untuk dipakai sebagai alat-Nya secara tepat.
Lewis B. Smedes di dalam bukunya
yang berjudul Mengampuni & Melupakan (Forgive & Forget) menuliskan ada
empat tahap Pemberian Maaf.
- Tahap pertama adalah sakit hati. Ketika seseorang menyebabkan Anda sakit hati begitu mendalam dan secara curang sehingga Anda tidak dapat melupakannya. Anda terdorong ke tahap pertama krisis pemberian maaf.
- Tahap kedua adalah membenci. Anda tidak bisa mengenyahkan ingatan tentang seberapa besar Anda sakit hati, dan Anda tidak bisa mengharapkan musuh Anda baik-baik saja. Anda kadang-kadang menginginkan orang yang menyakiti Anda juga menderita seperti Anda.
- Tahap ketiga adalah menyembuhkan. Anda diberi sebuah “mata ajaib” untuk melihat orang yang menyakiti hati Anda dengan pandangan baru. Anda disembuhkan, Anda menolak kembali aliran rasa sakit dan Anda bebaskembali.
- Tahap keempat adalah berjalan bersama; Anda mengundang orang yang pernah menyakiti hati Anda memasuki kembali dalam kehidupan Anda. Kedatangannya yang tulus membuat Anda berdua akan menikmati hubungan yang dipulihkan kembali